12 Musisi yang Lolos Babak Spesial Penjurian Bintang Muda Lokananta Vol. 2
Bintang Muda Lokananta Vol. 2 kembali hadir sebagai bentuk keberlanjutan dari revitalisasi Lokananta melalui pendekatan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL)/CSR di bidang Pendidikan. Program ini merupakan inkubasi musisi/band pendatang baru lintas-genre yang melingkupi proses kurasi, penampilan peserta di Lokananta Studio Gigs, kegiatan workshop/mentoring, rekaman album kompilasi Bintang Muda Lokananta Vol. 2 di Studio Lokananta, Showcase (Album Release Party), dan tur promosi. Semua proses dipusatkan di Lokananta Surakarta sebagai salah satu usaha menghidupkan kembali spirit Lokananta menjadi "Titik Nol Musik Nusantara".
Setelah melalui proses kurasi yang panjang dan ketat, Bintang Lokananta Vol. 2 mengumumkan 12 nama dari 256 Band/Solois yang mendaftar. Berikut adalah 12 musisi yang akan tampil dan diseleksi langsung oleh Dewan Juri di depan para penonton Lokananta Studio Gigs.
Barmy Blokes (Surakarta)
Lahir pada tahun 2015 dan baru produktif merilis karyanya di 2016, Barmy Blokes dikenal sebagai kuartet garage rock yang progresif. Formasinya diisi sekawanan pemuda urakan dengan Wiki di vocal dan gitar, Capit di gitar, Jambrong di bass, serta Rafi di drum. Dari awal kelahirannya di tahun 2015 hingga sekarang, tidak ada pergantian pemain yang terjadi. Keakraban mereka bertahan dalam waktu yang lama dengan segala dinamika yang mengiringi perjalanan mereka selama 10 tahun berkarya.
Tuan Sendiri (Bandung)
Tuan Sendiri adalah sebuah interpretasi dan hasil dari ruang-ruang keheningan pikiran; ruang tidur pada pukul 02:00, kamar mandi yang tetes air kerannya bergema, atau lampu merah di perempatan jalan yang panas sekalipun. Lirik yang ditulis oleh Tuan Sendiri berkisar pada topik hubungan seseorang dengan manusia lainnya atau dengan dirinya sendiri. Sebuah wacana yang selalu bergulat di pikiran manusia manapun itu. Musiknya adalah undangan untuk berhenti sejenak. Berhenti dan mengambil jeda atas segala dinamika yang terjadi dalam hidup ini. BegiTuan Sendiri, panggung adalah tempat dimana kebisingan berakhir dan sebuah kontemplasi itu dimulai.
Deem (Jakarta)
Deem merupakan proyek alternative/ambient rock yang berangkat dari eksplorasi soundscape, dinamika, dan pendekatan instrumen yang berlapis. Musik Deem dibangun sebagai upaya untuk melampaui batas-batas imajiner, dengan memanfaatkan tekstur, ruang, dan kontras sebagai medium ekspresi. Melalui rilisan dan penampilan live, Deem memposisikan musiknya sebagai proses yang terus berkembang, menghubungkan karya rekaman dengan intensitas dan kejujuran ekspresi panggung.
BeverlyLine (Semarang)
BeverlyLine adalah grup musik asal Semarang yang membawakan alternative-pop. Grup ini beranggotakan 5 orang yang terdiri dari Imza Wida (Vokal/Gitar), Refirendyan Dicky (Gitar), Manggar Komalaning (Gitar), Sakha Wipranala (Bass), dan Jeremy Edo (Drum). Dibentuk pada tahun 2019, BeverlyLine mengenalkan diri mereka dalam sebuah kisah tentang romansa, emosi, dan pengalaman cinta masa muda yang sangat dekat dengan permasalahan anak muda biasanya.
Pajamas Boy (Sragen)
Pajamas Boy adalah band asal Sragen yang beraliran pop alternatif yang terdiri dari Bayungka (Vokal & Gitar), Irvan Romadhoni (Gitar), Laurentius Yoga (Bass) dan Andriansyah Prakoso (Drum). Pajamas Boy menggambarkan diri mereka sebagai anak kecil berpiyama yang memiliki imajinasi-imajinasi sebelum tidur. Dari imajinasi itulah musik mereka lahir. Menggabungkan lirik yang bernuansa metafora dan alunan harmoni yang manis. Lagu-lagu Pajamas Boy akan mengantar kita ke kamar tidur anak kecil yang memiliki beragam imajinasi.
Tardigrada (Palu)
Tardigrada didirikan pada akhir tahun 2020 oleh 6 orang rang yang mencoba mengusung idiom-idiom lokal dari sisi pendekatan notasi dan instrument lalu di kolaborasikan dengan EDM (Electronic Dance Music). Tardigrada berdiri karena kegelisahan mereka terhadap kesenian tradisi kita khususnya di wilayah musik yang kurang diminati anak muda. Kegelisahan itulah yang akhirnya mampu memberikan stimulus kepada Tardigrada untuk membentuk sebuah unit musik dengan harapan tetap menjaga kesenian tradisi dalam ranah musik.
We're All Gonna Make It (Yogyakarta)
We're All Gonna Make It berasal dari Yogyakarta. Nama mereka adalah sebuah doa agar semua dapat berhasil mendapatkan apa yang kita harapkan. Grup musik ini menawarkan pengalaman musik yang menggabungkan banyak genre musik, seperti pop, jazz, rock, funk, blues, techno, dan beberapa genre lain. We’re All Gonna Make It menyebut genre yang mereka bawakan sebagai, "WAGMIsm". "WAGMIsm" adalah aliran WAGMI (We're All Gonna Make It) yang bermakna sebuah pergerakan seni.
Gardenia (Banjarnegara)
Gardenia adalah proyek musik yang terbentuk melalui proses imajinatif dan naratif. Didirikan oleh Susmia Ken Dedes Syaefudin beserta Christoporus Adi Prasetyo pada tahun 2013, Arah pengkaryaan mereka berkiblat pada musik- musik Eropa lama, berdasarkan kegemaran mereka pada budaya Eropa abad pertengahan/Medieval dari post- classical period, music Celtic, Gregorian Chant, lalu mengolahnya menjadi sebuah aksioma, metodologi pendekatan antara satu sama lain, dan ikatan yang memiliki diorama tersendiri pada perjalanan musiknya. Gardenia Resmi bergabung bersama Frogs Records (Yogyakarta) pada tahun 2022, lalu merilis dua single berjudul “Les Yeux Gris†dan “In Her Arms†beserta official music video.
Drewgon (Maluku Tenggara)
Drewgon adalah seorang rapper asal Kei, Maluku Tenggara, Indonesia, yang telah aktif secara konsisten di skena hip-hop Indonesia selama hampir lima tahun. Drewgon memadukan rap dengan unsur jazz, gospel, afrobeat, soul, dan R&B, menciptakan warna musik yang khas. Dia telah merilis sejumlah single, dua EP berjudul "Mind Prison" (2021) dan "Purple Season" (2023), serta album debutnya "Koko Evav" pada tahun 2024.
Tama Yuri (Singkawang)
Tama Yuri adalah sosok solois indie asal Singkawang ang tengah menapaki perjalanan musiknya dengan penuh semangat dan karakter kuat. Sejak mulai berkarya pada 2023, Tama telah merilis sejumlah lagu, termasuk sebuah EP, dan saat ini sedang mempersiapkan album. Setiap karyanya tak hanya berisi melodi indah, tetapi juga narasi mendalam yang bertemakan cinta, pemberdayaan diri, hingga pertumbuhan dan proses penyembuhan diri
Alceena Inside (Yogyakarta)
Alceena Inside adalah unit modern metal asal Yogyakarta yang berdiri pada Desember 2024. Grup ini beranggotakan Forever Julia (Lead Vocal), Lovely Luna (Lead Vocal), Nisia Hertanto (Gitaris), dan Hendika Dwi P (Drummer). Dari segi musikalitasnya, mereka memainkan musik dengan tone yang heavy disambut oleh padatnya pattern drum dan dieksekusi oleh vokal dari dua remaja kembar
Mesin Waktu (Sidoarjo)
Mesin Waktu adalah sebuah kolektif musik Indonesia asal Sidoarjo yang kuat dan menarik. Dikenal sebagai unit musik yang memadukan estetika bunyi dari era klasik dengan komitmen tajam terhadap kritik sosial kontemporer. Jauh dari sekadar nostalgia, mereka menggunakan gaya visual vintage yang kuat sebagai medium untuk menyampaikan komentar yang relevan dan krusial terhadap isu-isu sosial modern. Mereka beranggotakan Ychenk (Vokal), Christ (Gitar), Goenasa (Bass), dan Didit (Drum).
Informasi resmi Bintang Muda Lokananta Vol.2 dapat diakses melalui akun Instagram @lokanantabloc dan @lokanantarecords, serta situs resmi www.lokanantabloc.com.
Foto: Bintang Muda Lokananta